Pengembalian Pusaka Keris Kyai Nogo Siluman dari Belanda ke Indonesia

Seperti kita ketahui bersama bahwa para bangsawan di nusantara pada umumnya mempunyai banyak pusaka. Terhadap pusaka tersebut, biasanya diberikan sebuah nama atau gelar oleh pemiliknya. Begitu juga dengan BPH Diponegoro yang memiliki berbagai ragam pusaka dan memberikan nama kepada masing-masing pusakanya, antara lain: Keris Kyai Ageng Bondoyudo, Tombak Kyai Rondhan, Wedung Kyai Wreso Gumilar, Keris Kyai Nogo Siluman, dll.

Sampai dengan saat ini, detail data primer pusaka-pusaka peninggalan BPH Diponegoro sangatlah minim, pun dengan nama empu pembuat pusaka. Salah satu pusaka yang sempat viral adalah Keris Kyai Nogo Siluman. Pusaka milik BPH Diponegoro ini bersifat piandel (manifestasi keyakinan dan kepercayaan dalam wujud sebuah pusaka yang bersumber pada doa kepada Tuhan Yang Maha Esa). Hal ini diperkuat dengan bentuk Keris Nogo Siluman ber-luk (lekuk) 11 berdapur Nogo Sosro dan berhiaskan kinatah emas sehingga indah bentuknya.

Jaman dahulu, memberikan cinderamata/hadiah kepada sahabat, relasi atau orang yang dianggap berjasa, umum dilakukan oleh para raja/bangsawan. Begitu juga dengan BPH Diponegoro memberikan cinderamata kepada Kolonel JB Cleerens, karena dianggap berjasa dalam koordinasi persiapan pertemuan antara BPH Diponegoro dengan Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock di Wisma Residen Kedu (Magelang, Jawa Tengah). Meski pada akhirnya, pertemuan damai tersebut berakhir dengan pengkhianatan dan penyergapan oleh Belanda.

Sejak Tahun 1984, proses penelitian, identifikasi dan verifikasi keris Nogo Siluman dimulai oleh Pieter Pott, seorang kurator Museum Volkenkunde, Leiden, kemudian dilanjutkan oleh Prof Susan Legene dari Vrije Universiteit Amsterdam pada tahun 2017, dan diteruskan oleh Johana Leifeldt, peneliti dari Volkenkunde, Belanda. Di tahun 2019, penelitian Nogo Siluman dilanjutkan Tom Quist dari Museum Vulkenkunde. Pada Januari 2020, Tim verifikasi dari Viena Austria, Dr. Habil Jani Kuhnt – Saptodewo diminta memvalidasi temuan Tom Quist dan Johanna Leijfeldt beserta arsip-arsip pendukung dan menyatakan bahwa keris itu milik BPH Diponegoro. Adapun verifikasi terakhir, dilakukan oleh Dr. Sri Margana, M.Hum, M. Phil., dari UGM Yogyakarta.

Adapun dasar verifikasi Keris Nogo Siluman:

  1. Surat korespondensi De Secretaris van Staatdengan Directeur General van Het Department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies pada 11-15 Januari 1831. Dokumen tersebut dibawa oleh utusan Jenderal de Kock, yakni Kolonel JB Cleerens untuk diserahkan kepada Raja Belanda Willem I.

 

  1. Surat kesaksian Ali BasahSentot Prawirodirjo berbahasa Jawa pada Bulan Mei 1830 yang berisi bahwa BPH Diponeogoro menghadiahkan Nogo Siluman kepada JB Cleerens. Hal ini menguatkan bahwa Nogo Siluman berada di Belanda.
  2. Adanya pernyataan Raden Saleh (maestro pelukis nusantara) yang pernah melihat langsung Keris Kyai Nogo Siluman sewaktu di Belanda. Dalam kesaksiannya, Raden Saleh menyampaikan makna penamaan nogo siluman, deskripsi fisik yang dibungkus prodoemas di ekor bagian bawah luk keris.

Selain informasi di atas, identifikasi Keris Nogo Siluman mengacu pada gambar hewan yang terukir tersembunyi di bagian gonjo (bawah) keris, di mana hal ini merupakan manifestasi dari hewan naga, sebuah hewan mitologi yang dikenal juga oleh masyarakat Jawa. Sosok naga Jawa ini hanya dapat dilihat dari posisi tertentu. Temuan dan opini dari Dr. Sri Margana, M.Hum, M. Phil. tersebut didukung oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Hilmar Farid, Ph.D, di mana beliau juga berlatar belakang sejarawan.

Tepat pada tanggal 10 Maret 2020, bertempat di Istana Kepresidenan Bogor, Keris Kyai Nogo Siluman diserahkan kembali oleh Raja Willem-Alexander yang mewakili Pemerintahan Kerajaan Belanda kepada Presiden RI, Bapak Joko Widodo. Saat ini, Keris Kyai Nogo Siluman tersimpan dan menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional, yang berada di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat.

Butuh bantuan?